IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Selor – Ratusan mahasiswa asal Kalimantan Utara yang tergabung dalam aliansi Gerakan Borneo Gugat Istana (GEBRAKAN) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Senin (13/4). Mereka datang untuk menagih komitmen pemerintah pusat terkait percepatan pembangunan di wilayah perbatasan yang dinilai masih stagnan.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu berlangsung cukup emosional. Selain menyampaikan orasi, massa juga melakukan aksi teatrikal dengan menyiram aspal sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi pembangunan di Kalimantan Utara.

Juru Bicara GEBRAKAN, Kristianto Triwibowo, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat perbatasan yang merasa kurang mendapat perhatian.

“Aksi kami bukan sekadar demonstrasi. Ini adalah ungkapan kekecewaan karena kami merasa diabaikan. Jika tidak ada langkah nyata terkait Daerah Otonomi Baru (DOB) dan proyek strategis lainnya, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” ujarnya, Kamis (16/4).

Setelah sekitar satu jam beraksi, perwakilan mahasiswa diterima oleh pihak Kementerian Sekretariat Negara untuk menyerahkan dokumen tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Terdapat tiga tuntutan utama yang disampaikan:

1. Percepatan Daerah Otonomi Baru (DOB)
Mahasiswa meminta pembentukan wilayah administratif baru guna mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat.

2. Evaluasi Proyek Strategis Nasional KIHI
Mereka mendesak pemerintah melakukan evaluasi serius terhadap Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kaltara.

3. Pemerataan Pembangunan Perbatasan
Aksi ini juga menuntut percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan sebagai garda terdepan negara.

Ketua Ikatan Mahasiswa Kaltara (IMKU) se-Jabodetabek, Bima Sadiropa, berharap Presiden tidak hanya menerima laporan di balik meja, tetapi juga turun langsung ke lapangan.

“Kami ingin Presiden melihat sendiri kondisi riil masyarakat di perbatasan. Jangan sampai pembangunan hanya jadi slogan,” ujarnya.

Menanggapi aksi tersebut, perwakilan Kemensetneg, Suherman, yang menerima massa aksi menyatakan bahwa laporan mahasiswa akan segera diproses. Ia juga meminta mahasiswa untuk kembali berkoordinasi dalam tiga hari ke depan guna mengetahui perkembangan tindak lanjut.

Aksi ini membawa pesan kuat melalui spanduk bertuliskan “Asta Cita Tanpa Fakta, Kaltara Diabai Negara”. Mahasiswa menegaskan bahwa Kalimantan Utara sebagai wilayah perbatasan merupakan gerbang kedaulatan yang harus menjadi prioritas dalam agenda pembangunan nasional. (*/itn)