Disbudpar Berau Gelontorkan Rp1,3 Miliar untuk Wisata Buyung-Buyung
OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau kembali mengalokasikan anggaran jumbo untuk proyek pengembangan wisata. Kali ini, dana sebesar Rp1,3 Miliar digelontorkan untuk lanjutan pembangunan kawasan wisata Buyung-Buyung yang berlokasi di Kecamatan Tabalar.
Anggaran tersebut tercantum dalam pagu pengadaan pada kode RUP 64055339 bernama paket “Lanjutan Pembangunan Kawasan Buyung-Buyung” dengan total pagu mencapai Rp1.302.850.000 Miliar Rupiah yang bersumber dari APBD Berau tahun 2026 ini.
Besarnya anggaran itu menjadi sorotan lantaran pembangunan disebut masih dilakukan secara bertahap dan belum diketahui secara pasti pembangunan apa yang akan dilakukan.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santoso, mengatakan konsep wisata Buyung-Buyung diarahkan sebagai kawasan agrowisata yang mengusung tema pertanian dan ketahanan pangan.
“Orang bisa berwisata sambil melihat bagaimana padi ditanam dan tumbuh. Buyung-Buyung ini sentra padi Kabupaten Berau,” ujarnya.
Namun, ketika ditanya soal rincian pembangunan dengan nilai pagu yang cukup besar, Yudha mengakui anggaran yang tersedia sebenarnya masih belum mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan fasilitas.
Ia menyebut pembangunan yang direncanakan meliputi penataan parkir, gazebo atau pendopo, gerbang kawasan, hingga plaza kuliner dua lantai jika anggaran memungkinkan.
“Dana yang ada sebenarnya kurang untuk memenuhi standar, tetapi akan dilakukan bertahap,” katanya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan terkait efektivitas penggunaan anggaran Rp1,3 Miliar apabila fasilitas utama yang direncanakan belum dapat direalisasikan secara penuh.
Di sisi lain, Disbudpar tetap optimistis proyek itu mampu mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan pengembangan UMKM lokal.
Menurut Yudha, sektor pariwisata akan memicu perputaran ekonomi, mulai dari penjualan kuliner hingga kerajinan masyarakat.
“Kalau kunjungan meningkat, tentu orang akan membutuhkan makan dan minum. Harapannya ada perputaran uang di sana,” ucapnya.
Disbudpar juga memastikan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) akan dilibatkan dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut. Meski demikian, pekerjaan fisik pembangunan tetap akan dikerjakan pihak ketiga melalui proses tender.
Yudha menilai pengembangan Buyung-Buyung penting dilakukan karena Berau dinilai belum memiliki destinasi wisata berbasis pertanian.
“Pantai sudah banyak, air panas ada, air terjun ada, danau juga ada. Tapi wisata pertanian belum ada. Ini yang ingin kita dorong sebagai destinasi berbeda,” jelasnya.
Meski membawa konsep baru, besarnya anggaran yang digelontorkan tetap menuai perhatian publik, terutama terkait kesiapan konsep, keberlanjutan pengelolaan, hingga potensi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. (*/Pan).


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.