
Berau Perkuat Posisi Kakao di Pasar Global, Ekspor Perdana ke Eropa Dimulai Desember
OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Pemerintah Kabupaten Berau terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor perkebunan unggulan, khususnya komoditas kakao. Melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, program pengembangan kakao kembali dipacu dengan target perluasan lahan hingga 100 hektare setiap tahun.
Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga produktivitas sekaligus mendorong kakao Berau menembus pasar ekspor.
Kepala Disbun Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa pengembangan kakao dilakukan secara bertahap dan terukur. Bukan sekadar memperluas areal tanam, pihaknya juga memperkuat kualitas produksi agar sesuai standar internasional.
“Penambahan lahan ini kami arahkan untuk petani yang serius dan lahannya bebas banjir. Selain itu, pendampingan tetap kami lakukan melalui bantuan alat fermentasi, pupuk, serta pelatihan sumber daya manusia,” jelasnya.
Saat ini, total luas kebun kakao di Berau mencapai 1.037 hektare dengan produksi sekitar 800 ton per tahun. Hampir setengahnya berada di Kecamatan Sambaliung, sementara sisanya tersebar di Kelay, Segah, Long Lanuk, Merasa, dan Birang. Meski belum besar, kualitas kakao Berau mulai mencuri perhatian pelaku industri cokelat dunia.
Salah satu capaian membanggakan adalah terjalinnya kerja sama dengan Valrhona, perusahaan cokelat premium asal Prancis. Perusahaan tersebut dijadwalkan melakukan ekspor perdana biji kakao Berau pada Desember mendatang sebanyak 20 ton.
“Jumlahnya tidak banyak, sekitar 20 ton, tapi ini langkah besar untuk petani kami,” kata Lita.
Menurutnya, Valrhona menerapkan standar yang sangat ketat sebelum menjalin pembelian. Mereka turun langsung meninjau kebun, bertemu petani, dan memastikan pengelolaan kakao dilakukan tanpa merusak hutan.
“Yang paling penting bagi mereka, jangan sampai kakao kami terindikasi deforestasi. Mereka ingin memastikan budidayanya dilakukan dengan baik dan minim bahan kimia,” tambahnya.
Valrhona bahkan membawa sampel biji kakao Berau ke laboratorium di Singapura untuk memastikan bebas logam berat. Setelah dinyatakan aman, kerja sama ekspor dilakukan melalui PT Katulistiwa Agro Serasi Sentosa (KASS) sebagai perusahaan pengumpul lokal.
Disbun Berau juga terus mendorong petani agar mampu melakukan fermentasi sendiri. Saat ini sebagian petani masih menjual biji kakao basah, namun nilai jual kakao fermentasi jauh lebih tinggi.
“Kami sudah bantu alat fermentasi dan tempat jemur. Kalau petani bisa fermentasi sendiri, harga jualnya jauh lebih bagus,” ujar Lita.
Secara nasional, nama Berau telah dikenal sebagai penghasil kakao berkualitas. Pada 2023, Berau meraih juara lomba biji kakao fermentasi tingkat nasional. Setahun kemudian, kakao Berau kembali masuk sembilan besar kakao terbaik Indonesia yang dikirim ke ajang Cocoa of Excellence di Italia.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Harga kakao di tingkat petani masih berfluktuasi, sempat menyentuh Rp 120 ribu per kilogram sebelum turun ke kisaran Rp 70–100 ribu. Kondisi ini mendorong sebagian petani beralih ke komoditas lain.
“Dulu Kampung Semanting itu kebun cokelat semua, sekarang tinggal sedikit,” ucapnya.
Untuk menjaga motivasi, Disbun mendorong agar setiap ekspor dilakukan dengan seremoni khusus.
“Bupati Berau sempat bilang, ekspor seharusnya di-launching supaya petani bangga. Biar mereka tahu hasil kerja kerasnya sampai ke luar negeri,” ujar Lita.
Lita optimistis masa depan kakao Berau semakin cerah. Dengan dukungan pemerintah dan komitmen petani, kakao Berau diyakini mampu bersaing di pasar dunia.
“Biar sedikit, tapi ini bukti kalau petani Berau bisa. Cokelat dari tanah kita akhirnya dikenal sampai Eropa. Itu hadiah terindah buat kami,” tutupnya.
Sementara itu, Bupati Berau Sri Juniarsih mengapresiasi langsung ketertarikan Valrhona untuk menjadikan kakao Berau sebagai bahan baku cokelat premium.
“Mereka sangat berminat dengan cokelat Berau karena tahu potensi dan orisinalitasnya,” ujarnya.
Pemkab Berau turut menyiapkan langkah strategis lanjutan, termasuk memperketat standar mutu dan memaksimalkan lahan tidur untuk meningkatkan produksi.
“Kita akan tetap memperhatikan standar internasional, seperti yang digunakan oleh Valrhona,” pungkasnya.
Melalui kerja sama global, penguatan kapasitas petani, dan perluasan areal tanam, Berau menegaskan tekadnya untuk menjadi salah satu pusat produksi kakao berkualitas tinggi di Indonesia. (ADV)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.