IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb Realisasi investasi di Kabupaten Berau hingga triwulan III 2025 mencatat rekor baru: sebesar Rp 7,4 triliun. Angka ini jauh melampaui target semula yang berada di kisaran Rp 4,5 triliun.

 

Angka tersebut diungkap oleh pejabat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) setempat, yang mengatakan bahwa capaian ini mencerminkan kepercayaan tinggi dari investor terhadap iklim usaha di Berau meskipun situasi global saat ini penuh tantangan.

 

Selama bertahun-tahun, perekonomian Berau sangat bergantung pada sektor tambang. Namun tren terakhir menunjukkan pergeseran. Pemerintah daerah aktif mendorong masuknya investor ke sektor non-tambang seperti pariwisata, perdagangan, dan industri pengolahan.

 

Langkah ini merupakan strategi jangka panjang: membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam, resilient, dan tidak semata-mata bergantung pada ekstraksi sumber daya alam. Jika berhasil, dampaknya bisa signifikan bagi lapangan kerja dan distribusi ekonomi lokal.

 

Keberhasilan menarik investasi besar tak lepas dari upaya Pemkab Berau menjamin kepastian perizinan dan regulasi. Proses perizinan disederhanakan, regulasi diperjelas, dan pelayanan dibuat lebih ramah investor upaya yang dinilai penting untuk meningkatkan minat investasi.

Menurut sumber resmi, “faktor utama adalah rasa aman dan transparansi bagi investor” tanpa itu, peluang besar seperti sekarang sulit tercapai.

 

Bagi masyarakat Berau, lonjakan investasi ini berpotensi membuka banyak pintu: lapangan kerja di industri pengolahan, jasa, perdagangan, pariwisata; dan kesempatan tumbuhnya usaha kecil-menengah.

Jika dikelola dengan baik dengan memperhatikan kesejahteraan warga, lingkungan, dan transparansi investasi ini bisa menjadi katalis bagi peningkatan kualitas hidup dan pemerataan ekonomi di seluruh daerah.

 

Meski capaian sangat positif, tantangan tetap ada. Diversifikasi sektor bukan hal mudah: dibutuhkan infrastruktur memadai, lingkungan regulasi yang konsisten, serta pengawasan agar investasi benar-benar memberi manfaat, bukan sekadar keuntungan semata.

Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menjaga komitmen terhadap transparansi, keberlanjutan, dan pemerataan agar momentum ini tak hilang begitu saja.

Raihan Rp 7,4 triliun bukan sekadar rekor finansial. Bagi Berau, ini bisa menjadi titik balik dari “kabupaten tambang” menuju “kabupaten investasi & ekonomi beragam”. Jika momentum ini dipelihara dengan regulasi baik, visi jangka panjang, dan keterlibatan masyarakat hasilnya bisa membawa perubahan nyata: ekonomi lebih stabil, lapangan kerja meluas, kemakmuran yang merata. (ADV).