
Harga Kakao Naik Signifikan, Berau Lihat Peluang Kebangkitan Perkebunan Rakyat
OKEGAS.ID, Tanjung Redeb — Kenaikan harga kakao di pasar global dalam beberapa bulan terakhir memberi angin segar bagi petani di Kabupaten Berau. Pemerintah daerah menilai momentum ini dapat menjadi titik balik untuk memperkuat sektor perkebunan rakyat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini mengatakan tren kenaikan harga kakao harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas budidaya dan memperluas pendampingan kepada petani. Menurut dia, kondisi pasar saat ini membuka ruang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih stabil.
“Harga kakao sedang berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Ini peluang besar bagi petani kita untuk memperbaiki pendapatan dan kembali menghidupkan kebun-kebun yang selama ini kurang terurus,” ujar Lita.
Lita menjelaskan, salah satu tantangan utama perkebunan kakao di Berau adalah rendahnya produktivitas tanaman tua dan minimnya perawatan. Banyak kebun rakyat masih menggunakan bibit lama yang tidak tahan hama dan memiliki hasil terbatas.
Untuk itu, Disbun mendorong petani memanfaatkan program peremajaan dan beralih ke bibit unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit. Sejumlah pelatihan budidaya, teknik pemangkasan, hingga penanganan pascapanen rencananya kembali diperkuat pada 2025.
“Kalau harga sedang tinggi, petani biasanya lebih bersemangat. Pemerintah ingin momentum ini diikuti dengan perbaikan budidaya supaya manfaatnya berkelanjutan,” kata Lita.
Di Berau, kakao masuk dalam kelompok komoditas perkebunan yang produksinya berpotensi tumbuh kembali setelah beberapa tahun merosot. Dinas Perkebunan mencatat, pergerakan harga membuat minat petani terhadap kakao mulai meningkat.
Selain membuka peluang pendapatan baru, penguatan sektor kakao dinilai dapat mendorong diversifikasi ekonomi daerah yang selama ini masih didominasi oleh sawit. Pemerintah daerah menyebutkan bahwa pengembangan kakao juga mendukung lapangan kerja di pedesaan dan memperkuat rantai ekonomi lokal.
Meski demikian, Lita mengingatkan bahwa pembangunan sektor perkebunan membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Porsi belanja Disbun saat ini sebagian besar masih terserap untuk kebutuhan rutin, sehingga ruang fiskal untuk program peningkatan produktivitas masih terbatas.
“Kami tetap berupaya maksimal meski anggarannya tidak besar. Yang terpenting adalah memastikan pendampingan kepada petani tetap berjalan,” ujarnya.
Dengan kenaikan harga kakao yang diperkirakan masih berlanjut, pemerintah daerah berharap minat petani untuk merawat dan mengembangkan kebun kembali tumbuh. “Ini momentum penting. Kalau kita bisa menjaganya, kakao bisa kembali jadi komoditas andalan rakyat Berau,” kata Lita. (ADV).


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.