IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Anggota DPRD Berau, Ratna Kalalembang, menyoroti minimnya aktivitas wisata pada malam hari di sejumlah destinasi unggulan di Kabupaten Berau. Kondisi ini dinilai berdampak pada daya tarik promosi wisata, khususnya bagi wisatawan yang menginginkan variasi hiburan, Kamis (30/04/2026).

Menurut Ratna, selama ini aktivitas wisata di Berau lebih didominasi kegiatan siang hari. Padahal, potensi untuk mengembangkan atraksi malam dinilai cukup besar, terutama di kawasan kepulauan seperti Derawan.

“Kalau bisa ada kegiatan malam hari untuk menarik minat tamu dari luar Berau. Kita ini masih kurang hiburan malam,” ujarnya.

Ia pun mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menghadirkan atraksi seperti pertunjukan tari tradisional atau kegiatan budaya lainnya yang dapat dinikmati wisatawan tanpa menghilangkan karakter daerah.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah, menjelaskan bahwa karakter pariwisata Berau memang berbeda dibandingkan daerah lain yang mengandalkan hiburan malam. Berau lebih mengedepankan konsep wisata minat khusus berbasis alam dan budaya, dengan target wisatawan mancanegara.

Menurutnya, mayoritas wisatawan asing justru mencari ketenangan dan keaslian alam, bukan suasana hingar bingar. Aktivitas seperti snorkeling, diving, hingga menjelajah destinasi alam menjadi daya tarik utama.

“Wisatawan datang ke Berau untuk menikmati alam dan ketenangan. Mereka tidak mencari hiburan malam seperti di kota besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, jadwal kunjungan wisata di Berau umumnya padat sejak pagi hingga sore hari. Destinasi seperti Maratua menawarkan beragam lokasi wisata, mulai dari Goa Tabung, Kakaban, hingga Puncak Mahligai, yang membuat wisatawan membutuhkan waktu istirahat di malam hari.

Selain itu, wisatawan juga cenderung menikmati interaksi dengan masyarakat lokal dan kearifan budaya setempat sebagai bagian dari pengalaman berwisata.

Meski demikian, Disbudpar tidak menutup kemungkinan menghadirkan hiburan malam dalam bentuk yang lebih adaptif, seperti festival musik atau pertunjukan budaya yang tetap menjaga suasana kondusif.

“Bisa saja diadakan festival musik pulau atau kegiatan seni budaya, tapi tidak yang bersifat bising. Konsepnya lebih ke budaya dan pengalaman lokal,” tambahnya.

Namun, pelaksanaan kegiatan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi anggaran dan ketersediaan sumber daya manusia. Penyelenggaraan event rutin, baik mingguan maupun bulanan, membutuhkan dukungan pembiayaan yang tidak sedikit.

Disbudpar juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta, seperti resort di Maratua, untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Selain itu, pemerintah kampung juga dapat memanfaatkan anggaran yang ada untuk menggelar kegiatan hiburan secara berkala.

Dengan pendekatan tersebut, diharapkan pengembangan wisata malam di Berau tetap sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan tanpa menghilangkan daya tarik utamanya sebagai destinasi yang menawarkan ketenangan dan keindahan alam. (ADV/Pan).