IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Direktur RSUD dr Abdul Rivai, dr Jusram, menegaskan bahwa rumah sakit yang dipimpinnya tidak mengalami kekosongan obat secara menyeluruh. Ia menyebut, yang terjadi di lapangan hanya keterbatasan pada beberapa jenis obat, sementara pelayanan kepada pasien tetap berjalan.

Menurutnya, dalam kondisi tertentu ketika obat tidak tersedia, tenaga medis mengambil langkah substitusi dengan obat lain yang memiliki fungsi serupa. Hal ini dilakukan agar pelayanan tidak terhenti.

“Kosong bukan berarti obat tidak ada sama sekali. Memang ada beberapa item yang kosong, tapi dokter melakukan penggantian dengan obat yang setara,” ujarnya, Senin (27/4/2026) kemarin saat rapat dengan DPRD

Ia mengakui, keterbatasan obat tersebut tidak lepas dari persoalan keuangan rumah sakit, terutama keterlambatan pembayaran kepada vendor. Kondisi ini dipengaruhi oleh terganggunya arus kas serta adanya dokumen tagihan yang belum lengkap dari pihak penyedia.

“Cash flow kami sempat terganggu, ditambah ada berkas vendor yang belum lengkap, sehingga proses pembayaran tidak bisa langsung dilakukan,” jelasnya.

Akibatnya, sebagian distributor sempat menahan suplai obat karena adanya tunggakan. Namun, manajemen rumah sakit telah mengambil langkah dengan memanggil seluruh vendor dan menyepakati skema pembayaran bertahap agar distribusi kembali berjalan.

“Kami sudah duduk bersama vendor. Mereka tetap menyuplai obat, sementara kami berkomitmen membayar secara berkala,” katanya.

Di sisi lain, penurunan nilai klaim dari BPJS Kesehatan turut berdampak pada pendapatan rumah sakit. Jusram menyebut adanya perubahan kebijakan yang membuat klaim dibayarkan lebih rendah, bahkan beberapa aturan berlaku surut.

“Kebijakan BPJS yang berubah dan berlaku mundur cukup memengaruhi pendapatan kami,” ungkapnya.

Selain itu, RSUD Abdul Rivai juga tengah melakukan pengembangan layanan, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Penambahan dokter spesialis hingga dua kali lipat serta pembangunan fasilitas baru menjadi bagian dari upaya peningkatan layanan, namun turut membebani keuangan.

“Anggaran kami banyak dialihkan untuk investasi, baik gedung maupun SDM. Ini tentu berpengaruh pada kondisi kas,” ujarnya.

Meski demikian, manajemen memastikan berbagai langkah mitigasi terus dilakukan. Hingga akhir Maret 2026, ratusan jenis obat telah kembali tersedia, seiring membaiknya hubungan dengan vendor.

Rumah sakit juga mulai menata ulang sistem pembayaran, termasuk jasa pelayanan tenaga kesehatan yang kini disepakati dibayarkan lebih rutin.

“Kami berupaya menjaga keseimbangan antara pelayanan dan keuangan. Ini proses yang tidak mudah, tapi tetap kami jalankan,” tutupnya. (*/Pan).