IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Ketergantungan masyarakat Kabupaten Berau terhadap sektor pertambangan kembali menjadi perhatian di tengah ketidakstabilan industri. Pola pikir yang masih menjadikan tambang sebagai pekerjaan utama dinilai berpotensi memunculkan persoalan ketenagakerjaan baru.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau, Anang Sapriani, mengungkapkan bahwa hingga kini sektor pertambangan masih menjadi tujuan utama para pencari kerja di Bumi Batiwakkal.

“Sampai sekarang yang jadi primadona masih tambang. Padahal bekerja di sektor lain juga itu pekerjaan,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, dominasi persepsi tersebut membuat sebagian masyarakat enggan melirik peluang kerja di sektor lain, meskipun kesempatan tetap tersedia. Kondisi ini memicu fenomena yang ia sebut sebagai “persepsi pengangguran”.

“Begitu tidak bisa masuk tambang, seolah-olah merasa pengangguran,” katanya.

Padahal, lapangan kerja di sektor lain seperti perdagangan, jasa, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih terbuka dan berpotensi menjadi sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat.

Di sisi lain, kondisi industri tambang saat ini juga tidak sepenuhnya stabil. Sejumlah perusahaan disebut tengah melakukan penyesuaian produksi yang berdampak pada tenaga kerja.

“Sekarang ini ada penciutan produksi. Boro-boro tambah tenaga kerja, mereka malah melakukan pengurangan,” ungkapnya.

Situasi ini dinilai ironis, mengingat tingginya minat masyarakat terhadap sektor tambang tidak sebanding dengan daya serap tenaga kerja yang justru menurun.

Selain itu, Disnakertrans juga menyoroti adanya indikasi masuknya tenaga kerja dari luar daerah, bahkan di tengah pengurangan tenaga kerja lokal.

“Kadang yang dikurangi tenaga lokal, tapi tenaga dari luar masuk. Nah itu yang mau kita sasar,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya perhatian bersama antara pemerintah dan perusahaan agar kondisi tersebut tidak merugikan tenaga kerja lokal. Perusahaan diharapkan dapat memprioritaskan tenaga kerja setempat, terutama dalam situasi keterbatasan lapangan kerja.

“Kalau tidak bisa menambah, jangan sampai melakukan pengurangan lagi,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, persoalan ketenagakerjaan di Berau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pekerjaan, tetapi juga tingginya ketergantungan terhadap sektor tambang serta perlunya perubahan pola pikir masyarakat agar lebih terbuka terhadap peluang di sektor lain. (itn)