IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Berau, Suriadi Marzuki, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau yang menghadirkan pasar ikan murah dalam rangka peringatan HUT HNSI ke-53.

Kegiatan yang digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambaliung, Sabtu (16/5/2026), disambut antusias masyarakat. Sejak pagi, warga terlihat memadati area pasar untuk membeli berbagai jenis ikan dengan harga lebih murah dibanding harga pasaran.

Suriadi mengatakan pasar ikan murah tersebut menjadi salah satu upaya membantu masyarakat sekaligus menekan laju inflasi akibat kenaikan harga sejumlah bahan pokok.

(Suriadi Marzuki Ketua HNSI Berau/Doc. Okegas.id by Irfan)

“Latar belakang kegiatan ini karena adanya keresahan terkait inflasi dan kenaikan harga bahan pokok. Kami ingin membantu masyarakat dengan menghadirkan ikan berkualitas dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara HNSI, Dinas Perikanan, serta pihak TPI Sambaliung.

“Awalnya ini inisiatif bersama dengan Dinas Perikanan dan Kepala PPI. Kemudian kami mengajak teman-teman nelayan dan agen penampung ikan untuk ikut mendukung kegiatan pasar murah ini,” katanya.

Menurut Suryadi, seluruh ikan yang dijual dalam kegiatan tersebut berasal dari hasil tangkapan nelayan lokal Berau. Persiapan dilakukan sejak jauh hari dengan melibatkan sejumlah agen dan penampung ikan.

“Ikan yang dijual ini murni hasil tangkapan nelayan Berau. Jadi selain membantu masyarakat, kegiatan ini juga ikut mendukung hasil tangkapan nelayan lokal,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan nelayan di Berau masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah, mulai dari distribusi hasil laut hingga keterbatasan sarana pendukung.

Salah satu persoalan yang disorot adalah terganggunya jalur ekspor akibat berkurangnya penerbangan dari Berau.

“Teman-teman nelayan sekarang cukup kewalahan untuk ekspor karena beberapa penerbangan sudah tidak beroperasi lagi,” ucapnya.

Selain itu, kebutuhan fasilitas pendukung seperti pabrik es dan cold storage juga dinilai masih belum mencukupi untuk mendukung aktivitas nelayan dan penyimpanan hasil tangkapan.

“Ketersediaan pabrik es dan cold storage masih menjadi kebutuhan penting bagi nelayan kita,” katanya.

Tak hanya itu, persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga disebut masih menjadi kendala mendasar bagi nelayan tradisional di Berau.

“Kuota BBM untuk nelayan sampai sekarang masih belum terpenuhi maksimal. Ini menjadi persoalan utama yang terus kami perjuangkan,” ujar Suryadi.

Menurut dia, HNSI Kalimantan Timur saat ini terus berupaya menyampaikan persoalan tersebut hingga ke pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Suryadi juga menekankan pentingnya edukasi kepada nelayan terkait legalitas kapal dan kepatuhan terhadap aturan perizinan agar aktivitas melaut dapat berjalan lebih tertib dan aman.

“Kami terus mengedukasi nelayan agar lebih taat aturan, terutama terkait legalitas kapal dan perizinan,” pungkasnya. (*/Pan).