IKLAN VIDEO LIST

OKEGAS.ID, Tanjung Redeb — PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menutup tahun buku 2025 dengan catatan kabar menggembirakan. Perusahaan kehutanan yang beroperasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Utara, itu berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangannya, sekaligus membagikan dividen senilai Rp4,2 miliar kepada para pemegang saham.

Capaian tersebut disampaikan dalam kegiatan Laporan dan Perhitungan Tahunan Tahun Buku 2025 yang dirangkai dengan buka puasa bersama di Kantor PT HSB, Tanjung Redeb, Kamis (12/03).

Direktur Utama PT HSB, Roby Maula, menjelaskan bahwa dari total laba bersih perusahaan, sebesar 62 persen atau lebih dari Rp6,8 miliar dialokasikan sebagai dividen. Dari jumlah itu, Pemerintah Kabupaten Berau mendapat porsi terbesar, yakni Rp2,1 miliar atau 50 persen. Sementara itu, PT Inhutani I menerima Rp1,2 miliar (30 persen) dan Perusda Kehutanan Syla Kaltim Sejahtera sebesar Rp854 juta (20 persen).

“Laporan keuangan kami dinilai menyajikan posisi keuangan secara wajar dalam semua hal yang material,” ujar Roby.

Lebih lanjut, di tengah capaian positif itu, PT HSB mulai melirik peluang diversifikasi usaha. Perusahaan berencana mendorong pemanfaatan kawasan hutan melalui kegiatan pertanian, salah satunya budidaya jagung, yang dinilai memiliki potensi pengembalian investasi lebih cepat dibandingkan usaha kayu semata.

Perlu diketahui bersama kepemilikan saham PT HSB 50 persen dipegang oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, 30 persen oleh PT Inhutani I dan 20 persen dari Perusahaan Daerah (Perusda) Sylva Kaltim Sejahtera

“Ke depan kami tetap mengoptimalkan usaha kayu, tetapi juga mendorong pengembangan tanaman pertanian di kawasan hutan. Jagung, misalnya, selain mendukung program ketahanan pangan, return of asset-nya relatif cepat,” kata Roby.

Kendati demikian, sektor kehutanan masih dibayangi sejumlah tantangan. Kenaikan Biaya Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang signifikan disebut menjadi salah satu penghambat daya beli industri kayu saat ini.

“PSDH naik cukup tinggi sehingga beberapa industri menahan diri untuk membeli kayu karena harga menjadi terlalu mahal,” ungkap Roby.

Meski demikian, ia menegaskan optimismenya bahwa tantangan tersebut dapat dilewati, dengan tetap berpegang pada target yang telah dirancang sesuai regulasi yang berlaku.

Kegiatan tahunan ini sekaligus dijadikan momentum mempererat silaturahmi dengan para mitra yang selama ini mendukung operasional perusahaan. “Hari ini menjadi ruang untuk bersilaturahmi dengan para mitra yang selama ini bekerja sama dengan perusahaan,” pungkas Roby. (*/Pan).